Jumat, 18 Oktober 2013

Tulisan ke-2



Perencanaan Penetapan Manajemen
    A.   Definisi perencanaan (planning)
Perencanaan adalah memilih dan menghubung-hubungi kenyataan dalam kita membayangkan dan merumuskan tindakan-tindakan yang dianggap perlu untuk mencapai hasil yang diingini atau diinginkan. Rumusan ini dapat disimpulkan seperti,
    a. Perencanaan harus didasarkan pada kenyataan, pada data dan keterangan yang konkrit, tidak pada bagaimana maunya kita, keinginan kita dan sebagainya.
    b. Perencanaan adalah suatu pekerjaan mental yang memerlukan pemikiran, imaginasi dan kesanggupan melihat ke depan.
     c. Perencanaan mengenai zaman datang dan tindakan-tindakan apa yang dapat dilakukan jika ada rintangan-rintangan tiba-tiba muncul atau kesulitan-kesulitan mengganggu lanacarnya usaha.

Definisi  perencanaan dikemukakan oleh Erly Suandy (2001:2) sebagai berikut :
“Secara umum perencanaan merupakan proses penentuan tujuan organisasi (perusahaan) dan kemudian menyajikan (mengartikulasikan) dengan jelas strategi-strategi (program), taktik-taktik (tata cara pelaksanaan program) dan operasi (tindakan) yang diperlukan untuk menc“apai tujuan perusahaan secara menyeluruh.”

Definisi perencanaan tersebut menjelaskan bahwa perencanaan merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan perusahaan secara menyeluruh. Definisi perencanaan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa perencanaan menggunakan beberapa aspek yakni :
  1. Penentuan tujuan yang akan dicapai.
  2. Memilih dan menentukan cara yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan atas dasar alternatif yang dipilih.
  3. Usaha-usaha atau langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai tujuan atas dasar alternative yang dipilih.
     B.     Langkah-langkah dalam menyusun perencanaan
Langkah-langkah dalam perencanaan, dimana secara garis besarnya terdiri dari empat langkah dasar perencanaan yang bisa diterapkan untuk semua tipe jenajang organisasi/ lembaga/ institusi. Langkah-langkahnya antara lain adalah :

Menetapkan sasaran : Kegiatan perencanaan dimulai dengan menetapkan apasaja yang ingin dicapai oleh organisasi, tanpa dasar yang jelas, sumber daya yang ada akan meluas menyebar dengan menetapkan prioritas dan merinci serta mengkalkulasi sasaran secara jelas maka organisasi dapat mengarahkan sega sumber daya yang lebih efektif dan efisien serta tepat guna dan tepat sasaran. Tugas pokok dan fungsi harus sudah ada, jika sudah memiliki tupoksi yang jelas, maka akan semakin memudahkan untu membuat sasaran yang bisa dipakai untuk satu tahun kedepan maupun sasaran yang ingin dicapai dalam lima tahuan kedepan.

Merumuskan Posisi Organisasi : Posisi organisasi saat ini diman pimpinan harus tahu dengan posisi organisasinya saat ini. Sumber daya apa yang dimiliki organisasinya saat ini. Barulah rencana dapat disusun setelah diketahui posisi organisasinya, kekuatan-kekuatan yang akan melaksanakan dari apa-apa yang telah direncanakan dengan mengetahui keuangan dan statistic organisasi saat ini.

Mengidentifikasi berbagai faktor : Mengetahui factor-faktor pendukung dan penghambat selanjutnya perlu diketahui factor-faktor baik dari dalam maupun yang datang dari luar yang diperkirakan dapat membantu dan mendukung serta yang menghambat organisasi untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Diakui mengetahui lebih mudah keadaan yang terjadi saat ini dibandingkan meramal peluang yang akan didapat di masa yang akan datang. Dan unsure utama dalam perencanaan yang paling sulit adalah melihat kedepan. Namun biarbagaimanapun harus ditunjang dengan sikap optimis.

Menyusun langkah-langkah untuk mencapai sasaran : Langkah terakhir dalam menyusun perencanaan adalah mengembangkan berbagai kemungkinan alternative atau langkah yang diambil untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan, mengevaluasi alternative ini dengan memilih mana yang baik dan mana yang dianggap cocok dan memuaskan.

Perencanaan bukanlah semata-mata fungsi top manajemen. Setiap manajer harus membuat rencana untuk dilaksanakan dalam wewenangnya dan bidangnya bekerja. Rencana dapat mengambil bentuk bermaca-macam, sebagai berikut :
   1.    Kebijaksanaan (policy) dari pimpinan, yang menjadi pedoman dalam pemikiran dan penindakan bawahannya. Mereka tidak mutlak mengikuti saja kebijaksanaan itu, karena policy tidaklah dapat diperinci, maka bagi mereka diberi ruang untuk menafsirkan dan mempertimbangkannya dalam tindakan-tindakannya sehari-hari.
     2.      Prosedur, ini adalah rencana yang meliputi pemilihan tindakan yang harus diambil kelak. Umpamanya : pengeluaran biaya oleh seorang eksekutif atau pedagang keliling harus melalui suatu prosedur tertentu. Demikian pula pengambilan cuti oleh pegawai dan buruh dan lainnya.
     3.      Budget, suatu ikhtisar dari hasil yang diharapkan dan pengeluaran yang disediakan untuk mencapai hasil itu, yang dicatat dalam angka-angka. Bahwa pembuat budget ini adalah suatu rencana yang penting sekali.
      4.      Program, adalah campuran antara kebijaksanaan dan prosedur yang biasanya didukung oleh budget dan dimaksudkan untuk menetapkan suatu rangkaian tindakan di masa dekat atau untuk menetapkan suatu rangkaian tindakan di masa dekat atau jauh. Yang kita maksudkan dengan rencana dalam hal ini meliputi policy, prosedur budget dan program pula.
Ada aliran yang berpendapat, bahwa rencana dan pelaksanaannya harus dimasukkan ke dalam satu bagian, seperti ini :
     a.      Karena rencana (planning) dan pelaksanaannya (operating) adalah erat berhubungan satu sama lain, maka tidaklah bijaksana, jika kedua fungsi itu ditempatkan dalam masing-masing bagian.
     b.      Menyatukan kedua fungsi itu dalam satu tangan akan menyebabkan rencana dapat dibuat secara fleksibel dan cepat dapat disesuaikan dengan berobahnya keadaan.
     c.       Diketahui dari pengalaman kekurangan-kekurangan dari rencana yang lalu.
    d.      Dengan penyatuan hal di atas itu, maka kita dapat mendidik eksekutif dengan suatu sikap yang seimbang dan selaras.
Rencana itu harus memuat uraian yang mendalam sampai ke detail-detailnya. Oleh manajer ditentukan pekerjaan mana harus dikerjakan oleh siapa, bilamana pekerjaan itu dimulai dan dilaksanakan. Untuk mencapai ikhtisar yang jelas, perlu pula diadakan suatu “time-schedule”, yang membuat keterangan-keterangan tentang waktu dan sebagainya bagi tiap-tiap bagian rencana. 

Sumber : K, Soekarno, (1986), Dasar Dasar Manajemen, Jakarta : Miswar.
Panglaykim, j & Tanzil, hanzil, (1981), Manajemen Suatu Pengantar, Jakarta : Ghalia Indonesia.
Munandar, ashar sunyoto, (2001), Psikologi Industri dan Organisasi, Jakarta : Universitas Indonesia Pres.
Suandy, Erly, (2003), Perencanaan Pajak, Edisi Revisi, Salemba Empat : Jakarta.

Tulisan 1



Pengantar
    A.   Apa itu manajemen?
Manajemen adalah proses, dengan mana pelaksanaan dari pada suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi.
Manajemen juga berarti adalah fungsi dari pada dewan manajer (biasanya dinamakan manajemen), untuk menetapkan politik kebijaksanaan mengenai apa macam produk yang akan dibuat, bagaimana membiayainya, menyalurkannya, memberikan service, dan memilih serta melatih, pegawai dan lain-lain faktor yang mempengaruhi kegiatan suatu usaha.
Manajemen mempunyai suatu tujuan tertentu. Berhasil atau tidaknya manajemen itu tergantung pada soal, hingga mana tujuan yang ditetapkan terdahulu itu tercapai.
Manajemen berdasarkan ilmu adalah manajemen yang berisi ilmu dan dilaksanakan dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan metode keilmuan. Alat-alat yang dipergunakan pada ilmu pengetahuan seperti riset, penyelidikan dan eksperimen, dipergunakan dalam berbagai bidang manajemen. Penyelidikan dilakukan dalam membuat lay-out perusahaan, design peralatan dan membuat studi gerak dan waktu. Di lapangan personalia dilakukan penyelidikan psikilogis tentang tingkah dan laku para pekerja sebagai kelompok dan perorangan, dibuat analisa mengenai tingkah laku mereka baik di dalam maupun di luar jam bekerja, serta dipelajari hubungan dan pengaruh timbale balik antara perusahaan dan daerah sekitarnya.

Menurut Taylor, manajemen ditakdirkan untuk menjadi suatu seni, dan banyak unsure-unsur yang kini dikira berada di luar bidang pengetahuan eksak, tidak lama lagi akan distandardisasi, dijadikan tabel, diterima dan dipakai, seperti halnya dengan banyak unsure teknis. Manajemen akan dipelajari sebagai suatu seni dan akan bersandar pada prinsip-prinsip yang dirumuskan dengan tegas dan jelas, dan tidak pad aide samar-samar yang muncul dari pada observasi yang terbatas dalam satu dua organisasi yang diketahui oleh si individu.  
Jika ditarik kesimpulan, manajemen adalah suatu proses, kegiatan, usaha pencapaian tujuan tertentu melalui kerjasama dengan orang lain.
      
      B.     Apa itu kepemimpinan?
Setiap bawahan menginginkan seorang pemimpin (leader) yang bukan saja secara teoritis memiliki syarat-syarat kepemimpinan umum dan khusus serta memiliki technical know how, akan tetapi lebih dari pada itu justru yang terpenting adalah penerapannya sehingga benar-benar kepemimpinannya dapat dirasakan dan berpengaruh langsung kepada bawahan.
Diakui bahwa menguasai dan mendalami teori-teori kepemimpinan relatif lebih mudah dari pada merealisasikan dalam praktek. Pada prakteknya masih banyak dijumpai berbagai hal yang sering kali tidak terdapat dalam teori.
Menurut Terry tipe pemimpin ada 6 macam :
     1.  Tipe pribadi. Kepemimpinan pribadi dibuktikan oleh adanya kontak pribadi yang langsung dari si pemimpin dengan orang-orangnya. Kepemimpinan semacam ini biasanya sangat efektif di dalam usaha apapun, baik yang kecil, maupun yang besar sekali.
      2.  Kepemimpinan yang non-pribadi. Pemimpin tidak dirasakan langsung, melainkan liwat bawah-bawahnnya, atau melalui cara-cara yang non-personal seperti rencana, instruksi, sumpah dan janji “Interaction” (saling hubungan) antara pemimpin dan bawahannya berjalan tidak-langsung, jadi lambat.
    3. Kepemimpinan otoriter. Pemimpin seperti ini menganggap leadership sebagai haknya, dan berpendapat bahwa ia dapat menentukan apa dan bagaimana sesuatu harus dikerjakan. Pengawasannya sangat tegang pula.
4.      Kepemimpinan yang demokratis. Golongan bawahannya turut serta memberikan pendapat mereka. Ini mempunyai kebaikannya, terutama jika anggota-anggota golongan itu sendiri adalah orang-orang yang cakap dan cerdas. Jika tidak demikian, atau jika mereka tidak mempunyai keinginan untuk bekerjasama, dan mengejar cita-cita yang murni, maka tipe ini akan gagal pula. 
5.      Kepemimpinan yang paternalistis (serba datuk). Pemimpin menjaga kepentingan bawahannya seperti seorang datuk mengasuh kemenakannya atau anak semangnya : melindungi, menjuruskan, memimpin. Biasanya kepercayaan akan diri sendiri dan kesanggupan sendiri dari pada bawahannya tidak dapat berkembang.
   6.Kepemimpinan yang terdapat di dalam rombongan-rombongan yang setujuan seperti dari suatu perkumpulan sepakbola yang sedang berlatih. “Interaction” di sini lebih intens dari pada yang tipe pertama.

Sifat yang penting bagi seorang pemimpin adalah
       a.       Penuh energi, baik rohani maupun jasmani dan dapat bergiat terus-menerus.
      b.      Mempunyai stabilitas dalam emosi dan perasaan, artinya : seorang pemimpin tidak boleh berprasangka, berpikir jelek tentang orang-orang bawahannya, ia tidak boleh lekas naik pitam, sebaliknya percaya pada diri sendiri harus cukup ada.
     c.       Mempunyai pengetahuan yang luas tentang hubungan manusia. Oleh karena pekerjaannya yang utama erat bersangkutan dengan orang, maka ia harus mengetahui banyak tentang manusia dan hubungan antar manusia.
    d.      Keinginan untuk menjadi pemimpin harus menjadi daya pendorong yang muncul dari dalam dan tidak didesakkan dari luar. Ia harus mengungkapkan dan memancarkan enthusiasm dalam bekerja.
     e.       Mempunyai kemahiran dalam mengadakan komunikasi (secara lisan maupun tulisan).
     f.       Mempunyai kecakapan mengajar, karena seorang pemimpin tulen harus pula memberikan semangat pada orang-orangnya, ia harus pula dapat memperkembangkan lain orang dan memajukannya.    
   g.  Mempunyai kemahiran di bidang sosial supaya terjamin kepercayaan dan kesetiaan dari pada orang-orangnya, ia harus bersifat suka menolong, senang jika orang-orangnya maju, bersifat peramah dan dapat menghargai pendirian orang lain.
  h. Mempunyai kecakapan-kecakapan teknis, untuk merencana, menyusun organisasinya, mendelegasi kekuasaan, mengambil keputusan, mengawasi dan meneliti dan seterusnya.
Sumber :
K, Soekarno, (1986), Dasar Dasar Manajemen, Jakarta : Miswar.
Panglaykim, j & Tanzil, hanzil, (1981), Manajemen Suatu Pengantar, Jakarta : Ghalia Indonesia.
Munandar, ashar sunyoto, (2001), Psikologi Industri dan Organisasi, Jakarta : Universitas Indonesia Pres.
Suandy, Erly, (2003), Perencanaan Pajak, Edisi Revisi, Salemba Empat : Jakarta.

Senin, 24 Juni 2013

Tulisan Akhir


RANGKUMAN
Tulisan 1
Konsep Sehat
Secara harfiah sehat berarti kondisi seseorang dimana seluruh bagian dari manusia dapat bekerja sama dengan baik, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya
(Kamus Bahasa Indonesia). Jadi di sini saya berpendapat atau dapat dikatakan mempunyai kesimpulan bahwa konsep sehat itu bukan hanya dimana seluruh bagian/organ tubuh berfungsi dan bekerja dengan baik (bagaimana semestinya), tetapi juga setiap usaha-usaha yang dilakukan agar dapat “mencapai” kesehatan dan mempertahankannya.
Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
Sejarah kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran. Ini terutama karena masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat diamati dan terlihat. Berbeda dengan gangguan fisik yang dapat dengan relatif mudah dideteksi, seklaipun oleh anggota keluarganya sendiri. Hal ini lebih karena mereka sehari-hari hidup bersama sehingga tingkah laku-tingkah laku yang mengindikasi gangguan mental dia anggap hal biasa, bukan sebagai gangguan.
Tahun 1600 dan sebelumnya
Pandangan masyarakat saat itu menganggap bahwa orang yang mengalami gangguan mental adalah karena mereka dimasuki oleh roh-roh yang ada disekitarnya. Mereka dianggap melakukan kesalahan kepada roh-roh untuk menyatakan keinginannya. Oleh karena itu mereka sering kali tidak dianggap sakit.
Pendekatan Kesehatan Mental
1.    Orieantasi Klasik
Orientasi klasik yang umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak ada keluhan mental.
2.    Orientasi Penyesuaian Diri
Dengan menggunakan orientasi penyesuaian diri, pengertian sehat mental tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada hubungan antara individu dengan lingkungannya.
3.    Orientasi Pengembangan Potensi
Seseorang dikatakan mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia mendapat  kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia bisa dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri. Dalam psiko-terapi (Perawatan Jiwa) ternyata yang menjadi pengendali utama dalam setiap tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang lebih penting dan kadang-kadang sangat menentukan adalah perasaan.
Tulisan 2
Teori Kepribadian
1.      Aliran Psikoanalisa
Teori kepribadian dengan pendekatan psikodinamika sangat dipengaruhi oleh Sigmund Freud (1856-1939), Bapak Psikoanalisa yang sangat terkenal. Aliran ini melihat dari sisi negative individu, masa lalu, analisis mimpi (jalan istimewa menuju ketidaksadaran), dan juga alam bawah sadar, yang tersusun dari 3 sistem pokok yaitu : id, ego, dan superego.
2.      Aliran Behavioristik
Teori kepribadian behavioristik bertolak dari dan menekankan pengaruh lingkungan atau keadaan situasional terhadap perilaku. Tokoh-tokohnya adalah Rotter, Dollard, Miller, dan Bandura. Para ahli tarsebut berpendapat bahwa perilaku merupakan hasil interaksi yang terus menerus antara variable-variabel pribadi dengan lingkungan. Dengan demikian individu dan situasi saling mempengaruhi.
3.      Aliran Humanistik
Aliran humanistik memberi tekanan pada kualitas-kualitas yang membedakan menusia dengan binatang, yaitu kebebasan untuk memilih (freedom for choice) dan kemampuan untuk mengarahkan pekembangannya sendiri (self-direction). Banyak ahli menyebut teori tersebut sebagai “self-theorities” karena teori-teori tersebut membahas pengalaman-pengalaman batin, pribadi, yang berpengaruh terhadap proses pendewasaan diri seseorang, dan pertumbuhan itu diarahkan pada aktualisasi diri. Tokoh-tokoh utama pendekatan ini adalah Carl Rogers dan Abraham Maslow.

Tulisan 3
Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan
Penyesuaian diri sangatlah berperan penting dalam kehidupan manusia. Penyesuaian diri atau biasanya disebut adaptasi umumnya mengarah pada penyesuaian diri salam arti fisik, fisiologis ataupun biologis. Konformitas merupakan bentuk dari penyesuaian diri. Maksud dari konformitas ialah apabila terdapat individu mengikuti atau meniru perilaku orang yang ada disekitarnya.
Penyesuaian diri bersifat relatif, karena tidak ada orang yang mampu menyesuaikan diri secara sempurna. Alasan pertama penyesuaian diri bersifat relatif adalah melibatkan kapasitas seseorang dalam mengatasi tuntutan dari dalam dan dari lingkungan. Kapasitas ini bervariasi antara setiap orang, karena berkaitan dengan kepribadian dan tingkat perkembangan seseorang. Kedua adalah karena kualitas penyesuaian diri bervariasi antara satu masyarakat atau budaya dengan masyarakat atau budaya lainnya. Dan terakhir adalah karena adanya perbedaan-perbedaan pada setiap individu, setiap orang mengalami masa naik dan turun dalam penyesuaian diri.

Tulisan 4
Stress
Stress adalah respon tubuh yang respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Bila seseorang setelah mengalami stres mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut mengalami distres. Manusia sering sekali mengalami stress entah disebabkan oleh banyak faktor seperti tuntutan harian, pekerjaan, masalah-masalah yang dihadapi dan masih banyak lagi. Stress dibagi menjadi 2 yaitu stress yang merusak (distress) dan stress yang menguntungkan (eustress).
Tulisan 5
Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal memiliki pengertian yang berbeda tergantung  dari sudut mana individu memandangnya. Ada empat buah model yang dapat digunakan untuk menganalisa hubungan interpersonal. Di dalamnya ada  beberapa teori yang menjelaskan mengenai hubungan interpersonal, yaitu:
A.   Model pertukaran sosial (social exchange model)
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
B.   Model peranan (role model)
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan.
C.   Model permainan (games people play model)
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan.
D.   Model Interaksional (interacsional model)
Model ini memandang hubungann interpersonal sebagai suatu sistem . Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.
Tulisan 6
Cinta dan Perkawinan
Dalam suatu hubungan yang serius diawali dengan memilih pasangan yang tepat. Menurut subteori Sternberg yang lain, subteori segitiga cinta, ketiga unsure atau komponen cinta adalah keintiman, gairah, dan komitmen. Keintiman merupakan unsure emosional, melibatkan pengungkapan diri, yang mengarah keterikatan, kehangatan, dan rasa percaya. Gairah merupakan unsure motivasional, didasai oleh dorongan yang mentranslasi rangsangan fisiologis menjadi hasrat seksual. Komitmen merupakan unsure kognitif, keputusan untuk mencintai dan bertahan dengan sang kekasih. Setelah itu berlanjut kejenjang yang lebih serius yaitu membina rumah tangga dalam ikatan perkawinan. pernikahan adalah hubngan pria dan wanita yang diakui secara sosial, yang ditujukan untuk melegalkan hubungan seksual, melegitimasi membesarkan anak, dan membangun pembagian peran diantara sesama pasangan. Cinta yang sempurna harusnya menjadi komponen dalam hubungan dalam perkawinan. Bagaimana jika pernikahan yang dijalani tidak bertahan hingga lama dan menimbulkan konflik kemudian diakhiri dengan perceraian,  adakah alterntif lain selain pernikahan, mungkin jika belum menginginkan hubungan yang lebih jauh, sebaiknya dipertimbangkan kembali untuk menikah dengan orang yang anda sayangi. Bila menikah dengan unsure keterpaksaan maka berakibatkan perceraian.
Tulisan 7
Pekerjaan dan Waktu Luang
Semua orang pasti menginginkan hidupnya mendapatkan pekerjaan yang baik dan menyenangkan sesuai bakat dak keinginanya, dan mereka akan memilih pekerjaan yang sesuai dengan keahlian mereka, ketika memulai pekerjaan tanpa disadari waktu adalah hal yang yang seringkali kita remehkan. pada saat ini,waktu terasa berjalan begitu cepat, sedikit saja kita lengah, maka lewat sudah waktu yang tepat.
Berikut adalah beberapa cara menggunakan waktu luang secara positif dan produktif :
-          Waktu adalah penyeimbang yang luar biasa. Tak peduli siapa anda, berapa uang yang anda punya , atau dimana anda hidup dimuka bumi ini, kita semua memiliki waktu 24 jam yang sama dalam satu hari. Waktu adalah sumber yang sangat berharga . Jangan pernah sia-siakan waktu.
-          Benda-benda yang berserakan dirumah dapat memperlambat langkah anda dengancara mengalihkan perhatian dari apa yang sebenarnya ingin anda lakukan.Untuk mengontrolnya , bersihkan dan tata rapih semua benda setiap kali anda selesai melakukan suatu pekerjaan.
-          Jangan membuang-buang waktu dengan selalu merasa gelisah memikirkan beberapa banyak waktu yang akan anda habiskan untuk menyelesaikan pekerjaan anda tersebut. Merasa gelisah akan membuat anda membuang energi saja.
-          Jika anda tidak ingin melupakan tugas-tugas yang harus anda lakukan di beberapa hari mendatang , maka tulislah di dalam buku catatan/ agenda. Jangan hanya mengingatnya di dalam kepala. Setelah menulisnya anda bisa melupakannya. Sekarang anda bisa konsentrasi untuk pekerjaan lain yang lebih penting.
-          Jika anda menghabiskan 10 menit setiap harinya hanya untuk mencari barang-barang yang lupa dimana menaruhnya , maka anda membuang lebih dari 60 jam setiap tahun. Mulai sekarang rapikan barang-barang anda ditempat yang mudah dijangkau.