Sabtu, 23 Maret 2013

Tulisan 1 ( Kesehatan Mental )


Konsep Sehat
Secara harfiah sehat berarti kondisi seseorang dimana seluruh bagian dari manusia dapat bekerja sama dengan baik, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya
(Kamus Bahasa Indonesia). Dari pengertian di atas saja kita sudah dapat menggambarkan apa arti sehat dan apa saja hal-hal yang “menyangkut” tentang sehat itu sendiri.
Konsep sehat dalam hal ini bukan hanya apa arti sehat seperti yang “digambarkan” oleh pengertian di atas yaitu fungsi tubuh yang berfungsi dan berkoordinasi dengan baik serta bekerja dengan semestinya. Setiap usaha-usaha dalam “mencapai” dan mempertahankan kesehatan itu merupakan konsep sehat itu sendiri. Banyak usaha yang dilakukan setiap orang untuk mencapai apa itu yang kita sebut dengan kata “sehat”, entah itu dengan meminum obat-obatan secara teratur setiap hari, berolahraga dengan jadwal ketat,mengkonsumsi makanan yang organik, diet ketat, bahkan menempuh “jalan” yang bisa dianggap sedikit di luar nalar.
Menurut WHO, Sehat adalah keadaan keseimbangan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial, tidak hanya bebas dari penyakit dan kelemahan. Menurut Parson. Sehat adalah kemampuan optimal individu untuk menjalankan peran dan tugasnya secara efektif. Menurut Undang-Undang Kesehatan RI No. 23 Tahun 1992, Sehat adalah keadaan sejahtera tubuh, jiwa, sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Jadi di sini saya berpendapat atau dapat dikatakan mempunyai kesimpulan bahwa konsep sehat itu bukan hanya dimana seluruh bagian/organ tubuh berfungsi dan bekerja dengan baik (bagaimana semestinya), tetapi juga setiap usaha-usaha yang dilakukan agar dapat “mencapai” kesehatan dan mempertahankannya.

Sumber :
 http://ilmugreen.blogspot.com/2012/06/konsep-sehat-sakit-pada-keluarga.html
http://4jipurnomo.wordpress.com/konsep-sehat/
http://myblog-pamungkas.blogspot.com/2012/03/sejarah-kesehatan-mental-konsep-sehat.html

Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental  

Sejarah kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran. Ini terutama karena masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat diamati dan terlihat. Berbeda dengan gangguan fisik yang dapat dengan relatif mudah dideteksi, seklaipun oleh anggota keluarganya sendiri. Hal ini lebih karena mereka sehari-hari hidup bersama sehingga tingkah laku-tingkah laku yang mengindikasi gangguan mental dia anggap hal biasa, bukan sebagai gangguan.
Khusus untuk masyarakat indonesia, masalah kesehatan mental saat ini belum begitu mendapat perhatian yang serius. Krisis yang saat ini melanda membuat perhatian terhadap kesehatan mental kurang terpikirkan. Faktor budaya pun seringkali membuat masyarakat memiliki pandangan yang beragam mengenai penderita gangguan mental. Oleh karena itu berikut disajikan sejarah mengenai perkembangan kesehatan mental.

A.  GANGGUAN MENTAL TIDAK DIANGGAP SAKIT
Tahun 1600 dan sebelumnya
Pandangan masyarakat saat itu menganggap bahwa orang yang mengalami gangguan mental adalah karena mereka dimasuki oleh roh-roh yang ada disekitarnya. Mereka dianggap melakukan kesalahan kepada roh-roh untuk menyatakan keinginannya. Oleh karena itu mereka sering kali tidak dianggap sakit.
Tahun 1692
Mendapat pengaruh para imigran dari Eropa yang beragama nasrani, di amerika orang yang bergangguan mental saat itu sering dianggap terkena sihir/guna-guna atau dirasuki setan.
Sejarah kesehatan mental di Eropa, khususnya inggris agak sedikit berbeda. Sebelum abad ke-17, orang gila disamakan dengan penjahat/kriminal sehingga mereka dimasukan ke dalam penjara.

 B.       GANGGUAN MENTAL DIANGGAP SEBAGAI SAKIT
Tahun 1724
Pendeta Cotton Mather (1663-1728) mematahkan takhayul yag hidup di masyarakatberkaitan dengan sakit jiwa dengan memajukan penjelasan secara fisik mengenai sakit jiwa itu sendiri.
Tahun 1812
Benjamin Rush (1745-1813) menjadi salah satu pengacara mula-mula yang menangani masalah penangan secara manusiawi unruk penyakit mental. Pada masa ini tunbuh kepercayaan bahwa penanganan di rumah sakit jiwa merupakan hal yang benar dan secara ilmiah untuk menyembuhkan kegilaan. Pada tahun 1842 psikiater mulai masuk dan mendapat peranan penting dir umah sakit mengagntikan ahli hukum yang selama ini berperan.
Tahun 1843
Kurang lebih terdapat 24 rumah sakit, tapi hanya ada 2.561 tempat tidur yang tersedia untuk menangani penyakit mental di amerika serikat.
Tahun 1908
Clifford Beers (1876- 1943) mendirikan masyarakat Connecticut untuk mental Higiene yang kemudian pada tahun berikutnya berubah menjadi komite nasional untuk mental Higiene  yang merupakan pendahulu asosiasi kesehatan mental nasional.
Tahun 1910
Emil Kraeplin pertama kali mengagmbarkan penyakit Alzheimer dan juga mengembangkan alat tes yang digunakan untuk mendeteksi gangguan epilepsi.
 C.      GANGGUAN MENTAL DIANGGAP BUKAN SAKIT
Tahun 1961
Thomaz Szasz membuat tulisan yang berjudul The Myth of Mental Illness, yang mengemukankan dasar teori yang menyatakan bahwa “ sakit mental” sebenarnya tidaklah betul-betul “sakit” tetapi merupakan tidnadakan orang yang secara mental tertekan karena harus bereaksi terhadap lingkungan.

Sumber :
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental: kosep, cakupan, dan perkembangan. Yogyakarta:ANDI
http://myblog-pamungkas.blogspot.com/2012/03/sejarah-kesehatan-mental-konsep-sehat.html

Pendekatan Kesehatan Mental
1.      Orientasi Klasik
Orientasi klasik yang umumnya digunakan dalam kedokteran termasuk psikiatri mengartikan sehat sebagai kondisi tanpa keluhan, baik fisik maupun mental. Orang yang sehat adalah orang yang tidak mempunyai keluhan tentang keadaan fisik dan mentalnya. Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya tidak ada keluhan mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang mengalami gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan realitas. Orang-orang seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski hilang kesadaran dan tak mampu mengurus dirinya secara layak. Pengertian sehat mental dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks psikologi. Mengatasi kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata ‘sehat’. Sehat atau tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan sebagai tidak sehat mental. 
2.      Orientasi Penyesuaian Diri
Dengan menggunakan orientasi penyesuaian diri, pengertian sehat mental tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga pada hubungan antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam masyarakat tertentu digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi dianggap sangat sehat mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau sakit mental bukan sesuatu yang absolut. Berkaitan dengan relativitas batasan sehat mental, ada gejala lain yang juga perlu dipertimbangkan. Kita sering melihat seseorang yang menampilkan perilaku yang diterima oleh lingkungan pada satu waktu dan menampilkan perilaku yang bertentangan dengan norma lingkungan di waktu lain. Misalnya ia melakukan agresi yang berakibat kerugian fisik pada orang lain pada saat suasana hatinya tidak enak tetapi sangat dermawan pada saat suasana hatinya sedang enak. Dapat dikatakan bahwa orang itu sehat mental pada waktu tertentu dan tidak sehat mental pada waktu lain. Lalu secara keseluruhan bagaimana kita menilainya? Sehatkah mentalnya? Atau sakit? Orang itu tidak dapat dinilai sebagai sehat mental dan tidak sehat mental sekaligus.
Dengan contoh di atas dapat kita pahami bahwa tidak ada garis yang tegas dan universal yang membedakan orang sehat mental dari orang sakit mental. Oleh karenanya kita tidak dapat begitu saja memberikan cap ‘sehat mental’ atau ‘tidak sehat mental’ pada seseorang. Sehat atau sakit mental bukan dua hal yang secara tegas terpisah. Sehat atau tidak sehat mental berada dalam satu garis dengan derajat yang berbeda. Artinya kita hanya dapat menentukan derajat sehat atau tidaknya seseorang. Dengan kata lain kita hanya bicara soal ‘kesehatan mental’ jika kita berangkat dari pandangan bahwa pada umumnya manusia adalah makhluk sehat mental, atau ‘ketidak-sehatan mental’ jika kita memandang pada umumnya manusia adalah makhluk tidak sehat mental. Berdasarkan orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental perlu dipahami sebagai kondisi kepribadian seseorang secara keseluruhan. Penentuan derajat kesehatan mental seseorang bukan hanya berdasarkan jiwanya tetapi juga berkaitan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan seseorang dalam lingkungannya. 
3.      Orientasi Pengembangan Potensi
Seseorang dikatakan mencapai taraf kesehatan jiwa, bila ia mendapat  kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia bisa dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri. Dalam psiko-terapi (Perawatan Jiwa) ternyata yang menjadi pengendali utama dalam setiap tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah akal pikiran semata-mata, akan tetapi yang lebih penting dan kadang-kadang sangat menentukan adalah perasaan. Telah terbukti bahwa tidak selamanya perasaan tunduk kepada pikiran, bahkan sering terjadi sebaliknya, pikiran tunduk kepada perasaan. Dapat dikatakan bahwa keharmonisan antara pikiran dan perasaanlah yang membuat tindakan seseorang tampak matang dan wajar.
Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan Hygiene mental atau kesehatan mental adalah mencegah timbulnya gangguan mental dan gangguan emosi, mengurangi atau menyembuhkan penyakit jiwa serta memajukan jiwa. Menjaga hubungan sosial akan dapat mewujudkan tercapainya tujuan masyarakat membawa kepada tercapainya tujuan-tujuan perseorangan sekaligus.

Sumber :
http://idb4.wikispaces.com/file/view/uf4018.2.pdf
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental: kosep, cakupan, dan perkembangan. Yogyakarta:ANDI

Minggu, 03 Februari 2013

Jika Saatnya

Apakah ini saatnya untuk membunuh perasaanku.
Melepaskan segala rindu yang mengendap menjadi debu,
berterbangan, bersatu bersama langit yang membentang.
Apakah aku mampu? Sementara perasaan ini telah menjelma
prasasti yang membatu. Hidup disegala adaku, dalam diam,
love.jpgjarak, bahkan luka sekalipun.

Betapa susah memahami arti diri. 
Betapa sulit menyelami maunya hati.
Jalan membentang bertabur kasih yang kugelar, 
tak juga membuatmu bergeming. 
Segala adaku telah kubuka untukmu tanpa tirai sehelai pun.
Jila memang akhirnya aku harus membunuh perasaan ini,
izinkan aku untuk tetap mengenangmu. 
Tidak juga karena apa, cinta sejati tidak bisa 
dibunuh pun bunuh diri. Dia akan tetap mengalir 
setiap alunan nada kasih yang menggema di jagad maya. 

Izinkan aku tetap mencintaimu, walau hanya dalam diam, 
dalam senyap. Hingga suratan takdir membukakan 
rahasia kalamnya. Mungkin hanya dengan cara itu,
aku bias tetap mencintaimu.
Walau mungkin, tak pernah nyata juga akhirnya. :’)

Cinta itu, Kamu (31-32) Moammar Emka.~
 

Sabtu, 24 November 2012

Final SoftSkill Psikologi & Teknologi Internet


     A.   Penelitian Psikologi dan Internet (Publikasi Online)
Publikasi adalah secara terminologi, publikasi berarti penyiaran, pengumuman atau penerbitan. Ton kertapati menjelaskan dalam bukunya dasar-dasar publisistik dalam perkembangannya di indonesia menjadi ilmu komunikasi bahwa istilah publisistik berasal dari kata kerja bahasa latinpublicare yang berarti mengumumkan. Dari penjelasan tersebut, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa istilah publikasi dapat diartikan pengumuman tentang suatu hal yang disiarkan lewat media elektronik atau diterbitkan di media cetak. Sedangkan dalam penelitian ini, maksud dari publikasi adalah pengumuman pada masyarakat luas melalui mediay ang dibatasi oleh media televisi. Agar tidak terjadi kebingungan atau pertanyaan-pertanyaan mengenai perbedaan publikasi dan publisistik, maka sudah seharusnya penulis menjelaskan mengenai hal ini sebelum penulis membahasnya lebih jauh lagi, yang dimaksud publisistik di sini adalah ilmu tentang publikasi dan tentunya publikasi berarti aplikasi dari keilmuan tersebut. Ton Kertapati,  dalam bukunya ”Dasar-dasar publisistik dalam perkembangannya di Indonesia menjadi ilmu komunikasi”, menjelaskan bahwa istilah publisistik yang kita kenal pada waktu ini adalah berasal dari istilah bahasa Jerman yaitu PUBLIZIZTIK. Beliau menyatakan pernyataannya demikian : kata kerja dalam bahasa latin ini kemudian melalui bahasa Jermankuno PUBLICIRN menjadi PUBLIZIEREN yang juga berarti mengumumkan yaitu dalam bahasa Jerman modern. Dan akhirnya menjadi sebutan bagi ilmu PUBLIZISTIK yang di indonesiakan menjadi PUBLISISTIK. Maka adalah cukup logik kalau Walter Hagemann menganggap inti dari ilmu publisistik adalah Offentlichen Aussage (pernyataan umum atau pengumuman). Pengumuman sebagai inti (’t essentiele essence) dari ilmu maupun gejala publisistik. Kita dapat menunjuk beberapa definisi publisistik diantaranya: WILHELM BAUER di dalam bukunya ”Einfuhrung in das Studiumder Geschichte” (tahun 1921) mengatakan bahwa publizistik adalah pengumuman-pengumuman tertulis atau berupa gambar –gambar, yang pertama-tama secara terang-terangan mendukung suatu tender tertentu dan kedua direncanakan dengan maksud untuk mempengaruhi. HANS TRAUB: publisistik adalah bermacam-macam pengumuman dan pemberitaan yang bersifat umum, yang ditujukan untuk mempengaruhi jiwa dan mencapai suatu tujuan tertentu. Prof. EMIL DOVIVAT: publisistik adalah usaha pendidikan dan pendidikan rohaniah yang ditujukan kepada umum. Pendidikan dan bimbingan atau pimpinan rohaniah ini harus disertai dengan daya ilmiah dan bertendens mempengaruhi seseorang maupun orang-orang agar bertindak menurut apa yang kita kehendaki. ADINEGORO: publisitik ialah ilmu pernyataan antara manusia yang umum lagi aktual dan bertugas menyelidiki secara ilmiah pengaruh pernyataan itu dari mulanya ditimbulkan orang, sampai tersiar dalam pers, radio dan sebagainya serta akibatnya kepada si penerima pernyataan-pernyataan itu.
Online : Kata-kata online sebenarnya tidaklah asing lagi sebagian besar masyarakat dunia yang biasa menggunakan fasilitas internet, Indonesia. Namun terkadang mereka banyak yang tidak mengetahui apa sebenarnya arti online itu. Online dalam arti sebenarnya adalah berhubung, terkoneksi, aktif dan siap untuk oprasi, dapat berkomunikai dengan atau dikontrol oleh komputer. Online juga bisa diartikan sebagai suatu keadaan di mana sebuah device (kompuer)
terhubung dengan device lain, biasanya melalui modem. Sementara yang dimaksud dengan online dalam bisnis jual beli adalah menggunakan fasilitas jaringan internet untuk melakukan upaya penjualan atas produk-produk yang akan diperjualbelikan. Sedangkan Bisnis Online adalah segala upaya yang kita lakukan untuk mendatangkan keuntungan berupa uang dengan cara memanfaatkan internet untuk menjual suatu produk dan jasa.
Publikasi Online : Dari dua pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan dalam penggabungan kata publikasi online adalah suatu informasi atau pesan atau pengumuman dalam bentuk online atau diterbitkan atau di umumkan dalam dunia internet melalu media elektronik baik melalui komputer, laptop  handphone, smartphone atau apa saja yang dapat terhubung dalam dunia online, banyak sekali manfaat dari publikasi online ini apa lagi di zaman sekarang yang rata-rata masyarakat diseluruh dunia dapat terhubung atau menggunakan internet untuk alat mencari atau bertukar informasi, banyak yang dapat dilakukan dalam publikasi online misalnya berjualan atau memasarkan produk-produk baru  yang dipasarkan melalui publikasi online, semua itu sangat bermanfaat dan lebih mengirit biaya karena biayanya relatif murah dan lumayan bagus karena tidak hanya masyarakat dalam negeri saja bahkan dunia pun bisa tahu saat kita mulai menggunakan publikasi onlien ini.
Refrensi :
   
    B.    Etika dalam penelitian dengan bantuan internet
  
Etika Penelitian
Etika mencakup norma untuk berperilaku, memisahkan apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Rangkuman Etika Penelitian meliputi butir-butir berikut:
a. Kejujuran
Jujur dalam pengumpulan bahan pustaka, pengumpulan data, pelaksanaan metode dan prosedur penelitian, publikasi hasil. Jujur pada kekurangan atau kegagalan metode yang dilakukan. Hargai rekan peneliti, jangan mengklaim pekerjaan yang bukan pekerjaan anda sebagai pekerjaan Anda.
b. Obyektivitas
Upayakan minimalisasi kesalahan atau bias dalam rancangan percobaan, analisis dan interpretas data, penilaian ahli atau rekan peneliti, keputusan pribadi, pengaruh pemberi dana atau sponsor penelitian.
c. Integritas
Tepati selalu janji dan perjanjian, lakukan penelitian dengan tulus, upayakan selalu menjaga konsistensi pikiran dan perbuatan.
d. Ketelitian
Berlaku teliti dan hindari kesalahan karena ketidak pedulian secara teratur catat pekerjaan yang anda dan rekan anda kerjakan, misalnya kapan dan di mana pengumpulan data dilakukan. Catat juga alamat korespondensi responden, jurnal atau agen publikasi lainnya.
e. Keterbukaan
Secara terbuka, saling berbagi data, hasil, ide, alat dan sumber daya penelitian. Terbuka terhadap kritik dan ide-ide baru.
f. Penghargaan terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI)
Perhatikan paten, copyrights, dan bentuk hak-hak intelektual lainnya. Jangan gunakan data, metode, atau hasil yang belum dipublikasi tanpa ijin penelitinya. Tuliskan nara sumber semua yang memberikan kontribusi pada riset anda. Jangan pernah melakukan plagiasi..
g. Penghargaan terhadap kerahasiaan (Responden)
Bila penelitian menyangkut data pribadi, kesehatan, catatan kriminal atau data lain yang oleh responden dianggap sebagai rahasia, maka peneliti harus menjaga kerahasiaan data tersebut.
h. Publikasi yang terpercaya
Hindari mempublikasikan penelitian yang sama berulang-ulang ke berbagaimedia (jurnal, seminar).
i. Pembinaan yang konstruktif 
Bantu membimbing, memberi arahan dan masukan bagi mahasiswa atau peneliti pemula. Perkenankan mereka mengembangkan ide mereka menjadi penelitian yang berkualits.
Dibawah ini ada beberapa etika khusus untuk berkomunikasi dalam sebuah forum/milis:
     1.      Jangan Gunakan Huruf Kapital
     2.      Kutip Seperlunya
     3.      Perlakuan Terhadap Pesan Pribadi
     4.      Hati-hati terhadap informasi/ berita hoax
     5.      Ketika ‘Harus’ Menyimpang Dari Topik (out of topic/ OOT)
     6.      Kritik dan Saran yang Bersifat Pribadi Harus Lewat PM (Personal Message)
     7.      Dilarang menghina : agama, ras, gender, status sosial dan sebagainya yang berpotensi menimbulkan debat kusir yang mengarah ke situasi yang emosional.
     8.       Cara bertanya yang baik :
 -       Gunakan bahasa yang sopan.
 -       Jangan asumsikan bahwa Anda berhak mendapatkan jawaban.
 -       Beri judul yang sesuai dan deskriptif. 
 -       Tulis pertanyaan anda dengan bahasa yang baik dan mudah dimengerti.
 -       Buat kesimpulan setelah permasalahan anda terjawab.
Refrensi :


    C.     Ulasan dari Jurnal Penelitian Psikologi Mengenai Internet
Disini saya akan mengulas Jurnal Penelitian Psikologi Mengenai Internet mengenai : “Komputer dan Internet Mengubah Ingatan Manusia”. Memori kolektif internet membuat kita ingat lebih sedikit hal. Komputer dan internet mengubah sifat ingatan manusia, demikian kesimpulan penelitian yang dimuat di majalah Science. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa jika seseorang diajukan pertanyaan-pertanyaan sulit, mereka akan memikirkan komputer. Ketika mereka mengetahui bahwa berbagai fakta nantinya akan didapat lewat komputer maka ingatan mereka menjadi tidak begitu baik karena mereka mengetahui dapat mengandalkan sumber lain.
Bagian pertama pengkajian adalah menguji apakah peserta penelitian “langsung” memikirkan komputer dan internet begitu diajukan pertanyaan sulit. Tim menggunakan tes Stroop yang dimodifikasi. Tes Stroop standar mengukur berapa lama waktu yang diperlukan partisipan untuk membaca sebuah kata warna sementara kata tersebut berbeda warna, misalnya kata “hijau” ditulis dengan warna biru. Waktu reaksi meningkat ketika, bukannya kata warna, para partisipan ditanyakan untuk membaca kata-kata tentang topik yang kemungkinan sudah ada dalam pikiran.
Dengan cara ini tim peneliti menunjukkan bahwa, setelah diberikan topik dengan jawaban ya atau tidak, waktu reaksi terhadap istilah yang terkait dengan internet sangat lebih lama. Ini adalah sebuah isyarat partisipan tidak mengetahui jawaban, dan mereka sudah mempertimbangkan untuk menjawab dengan menggunakan komputer. Dalam percobaan lebih mendalam para peserta penelitian diberikan serangkaian fakta. Setengahnya diminta menyimpannya pada sejumlah folder di komputer, setengahnya diberitahu bahwa fakta-fakta tersebut akan dihapus. Ketika diminta untuk mengingat fakta tadi, kelompok yang mengetahui informasi tidak akan didapat lagi menunjukkan kinerja yang sangat lebih baik dibandingkan kelompok yang menyimpan fakta dalam berkas di komputer. Para ahli mengatakan kecenderungan partisipan untuk mengingat lokasi informasi, bukannya informasi itu sendiri, merupakan isyarat orang semakin tidak bisa mengingat sesuatu, mereka hanya mengatur penempatan informasi dalam jumlah besar agar nantinya mudah didapat.
Refrensi :

      D.    Bermain game online selama 3 hari kemudian menuliskan dampak positif dan negatif
Dampak Positif dan Negatif Game Online. Saya memainkan game yang berjudul “Penjual Shusi”
Saya memainkan game ini selama 3 hari berturut-turut sesuai dengan perintah dosen, dan ini lah dampak positif dan negatif dari game ini.
Dampak positif :
      1.      Melatih ketelitian.
      2.      Melatih kesabaran.
      3.      Melatih daya ingat kita.
      4.      Sarana hiburan
      5.      Menambah ilmu pengetahuan tentang bumbu dapur.
      6.      Melatih berbahasa asing, karena game biasanya tidak menggunakan bahasa Indonesia.
Dampak negatif :
      1.      Bisa ketagihan, karena level semakin tinggi sehingga penasaran dan  rasa ingin menang sangat tinggi.
      2.      Lupa waktu, karena bisa seharian di depan laptop atau computer.
      3.      Mudah marah jika kalah atau jika game itu menyuruh kita mengulang level.
      4.      Sebel ketika koneksi internetnya tiba-tiba memburuk.
      5.      Menyebabkan mata rusak, jika kita terlalu sering berhadapan dengan layar monitor pada computer atau laptop.